Membedah karya David Goldblatt menurut Krisna Figrianto

Perkembangan Pemikiran Seni “Apakah Desain Museum Seni Mengganggu?”

Kali ini kita akan menggali buah pemikiran seni yang tertuang pada buku yang berjudul “Aestethics : A Reader in Philosophy of the Arts” yang ditulis oleh David Goldblatt, Lee B. Brown dan Stephanie Patridge. Karena terdapat hampir 100 essay didalamnya, saya akan membahas essay nomor 33 kali ini. Tanpa berlama-lama lagi, mari kita masuk pada ruang lingkup opini saya pada buku ini.

Kontroversi abad 21 “Apakah Desain Museum Seni Mengganggu?”

Apresiasi pengunjung terhadap seni didalam museum dipicu oleh Guggenheim karya Frank Gehry Bilbao : 1997. Disamping itu juga terdapat Guggenheim lainnya, seperti karya Frank Lloyd Wright 1959 di Museum New York. Kedua karya tersebut lah yang memunculkan spekulasi haruskah seni arsitektur museum mengerdilkan seni didalamnya? Karena pada dasarnya, Bilbao hanya menginginkan bangunan spektakuler pada museum supaya menarik ribuan wisatawan.

Bangunan (museum) pertama yang terbilang spektakuler berdiri pada 2001 dirancang oleh Santiago Calatrava dengan desain sayap mekanis yang menakjubkan dengan buka tutup pada langit atrium-nya, namun menurut Peter Cook dan Colin Fournier pada karyanya yang berjudul Graz : 2003, museum itu terlihat seperti makhluk asing dari kedalaman yang dijatuhkan di tengah kota itu.

Masuk pada 2006, Daniel Libeskind memberikan persepsinya pada Museum Seni Denver yang menyampaikan beberapa dinding di Museum Seni Denver miring begitu parah sehingga orang-orang membenturkan kepalanya ketika museum pertama kali dibuka. Lalu perbaikan itu dilakukan pada Museum Louis Vitton yang dibuka pada 2014 di Paris yang dirancang oleh Frank Gehry yang mana ditutupi dengan layar kaca besar yang melengkung.

Museum Seni Spektakuler vs Perbedaan

Meskipun banyak diterima masyarakat dengan antusias, beberapa kritikus keberatan bahwa desain spektakuler pada museum terlalu mengganggu serta tidak menghargai seni. Kritikus seperti Hal Foster berkata bahwa banyak desain ikonik museum hanya menjadi ruang tontonan besar yang menelan nilai seni didalam museum itu. Namun menurut Frank Gehry “museum seni seharusnya memiliki gedung yang kokoh” Dan sejarahwan juga berpendapat bahwa orang tidak pergi ke museum seni bukan hanya untuk merenungkan seni, tapi juga untuk dihibur dan menikmati desain arsitekturnya.

Tiga (3) Konsep Tambahan

  1. Bedakan Upstaging dan Interfensi

Ada perbedaan penting antara arsitektur yang tampaknya lebih cemerlang dari seni

dan arsitektur yang benar-benar mengganggu upaya kami untuk fokus pada seni. milikku sendiri

pengalaman penambahan Denver Daniel Libeskind jelas merupakan salah satu arsitektur

mengganggu seni.

  • Bedakan Motivasi dari Bentuk Arbitrer

Masalah utama bagi para arsitek yang melihat diri mereka sebagai seniman bebas, Hal

Foster telah menyarankan, adalah bagaimana memberi pilihan arsitektur mereka motivasi selain

yang murni formal. Meskipun Foster menganggap bentuk spektakuler Gehry dan Hadid

sewenang-wenang, saya tidak setuju. Tapi saya setuju bahwa arsitek pada umumnya harus

dibatasi oleh pertimbangan fungsional dengan cara yang tidak dilakukan seniman.

  • Memungkinkan untuk Adaptasi

Kurator sering membutuhkan waktu untuk mencari tahu cara menggunakan ruang yang tidak biasa. Ini terjadi dengan galeri terbesar di Bilbao, ruang melengkung sepanjang lapangan sepak bola, yang baru menemui tandingannya beberapa tahun lalu dengan pemasangan seri Richard

Elips torsi raksasa Serra. Dan atrium besar Wright di New York. Guggenheim, yang bagi sebagian orang tampak seperti arsitektur yang memanjakan, ternyata, seperti “Aula Turbin” yang luas dari Tate Modern di London, menjadi ruang dramatis untuk bekerja dari seni instalasi.

Kesimpulan

Pada dasarnya menilai seni adalah perspektif individu masing-masing, begitu juga dengan menilai estetikanya entah itu dari segi bangunan arsitekturnya, dari value senimannya atau dari nilai yang terkandung pada karya-karya seni yang terletak di dalam museum-museum. Baik atau buruknya adalah tergantung siapa yang melihat dan dari sisi mana melihatnya.

Hingga pada akhirnya banyak sesuatu yang kita nilai baik belum tentu baik dimata orang lain, begitu pula apa yang kita lakukan menurut kita sudah yang terbaik dan terindah namun masih kurang dimata orang lain. Mereka hanyalah kritikus, bahkan kritikus adalah diri kita sendiri yang mengkritik karya kita namun dikagumi banyak orang. Itulah perspektif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s