Talking about NFT

NFT Mengandung Trauma Masa Lalu?

Benarkah NFT sarat akan trauma masa lalu? Mari kita bahas.

Menurut Wikipedia, token yang tidak dapat ditukar (bahasa Inggris: non-fungible token atau NFT) adalah berkas digital unik yang identitas dan kepemilikannya diverifikasi pada rantai blok (buku besar digital). NFT umumnya adalah berkas yang diunggah ke pasar lelang namun Memiliki sifat tidak saling bertukar, contohnya karya seni digital. NFT dibuat dengan mengunggah berkas, seperti karya seni, ke pasar lelang NFT, seperti KnownOrigin, Rarible, atau OpenSea.

Terdapat berbagai macam NFT di luar sana, mulai dari NFT musik, seni, dan masih banyak lagi. Sebuah karya seni, baik lukisan, foto, musik, dan lain-lain, perlu diubah dalam bentuk digital terlebih dulu. Kemudian, kreator bisa memilih platform market place NFT untuk menukarkan karya tersebut ke dalam bentuk token digital. Maka dari itu dapat dikatakan karya NFT merupakan hasil karya seni.

Seni pada mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu. Seni adalah proses dan produk dari memilih medium, dan suatu set peraturan untuk penggunaan medium itu, dan suatu set nilai-nilai yang menentukan apa yang pantas dikirimkan dengan ekspresi lewat medium itu, untuk menyampaikan baik kepercayaan, gagasan, sensasi, atau perasaan dengan cara seefektif mungkin untuk medium itu.

Perasaan dan seni tidak dapat dipisahkan. Perasaan dapat berupa senang, bahagia, sedih, marah, kecewa dan sebagainya. Ada beberapa indicator yang dapat menimbulkan perasaan, salah duanya adalah masa lalu, masa sekarang. Mengapa tidak ada masa depan? Karena masa depan adalah misteri, perasaan yang ditimbulkan akan ada di masa sekarang. Masa lalu dapat berupa perasaan senang maupun kesedihan.

Namun, untuk artikel kali ini aku akan membawa kalian kepada perasaan masa lalu yang menimbulkan kesedihan atau rasa trauma pada diriku dan mungkin mewakili beberapa yang kalian rasakan di masa lalu melalui karya NFT yang diunggah di situs https://objkt.com/explore/ .

Karya yang diberi judul “Mirror” ini selayaknya menggambarkan cermin namun tidak berbalik. Aku melihat sebuah hal yang bertepuk sebelah tangan. Gambar menjelaskan tentang sebuah pelukan yang hangat namun menyimpan pilu. Memeluk, mendekap, mencium namun tiada objek yang terpeluk, terdekap, tercium. Di lain sisi memeluk tubuh yang tiada berwujud. Hal ini menggambarkan masa lalu-ku tentang bagaimana merindukan seseorang yang tiada merindukan diri ini, pernah punya harapan dengan seorang wanita yang mana wanita tersebut bukan menjadikan diri ini harapannya.

Aku yang memilikinya namun tidak hatinya disana, dengan berbagai hal yang telah dilewati bersama namun ternyata tidak akan lama bersama. Aku yang hampir menyatakan kesiapanku terhadap ayahnya, kini sirna. Aku yang menyiapkan segalanya, ia yang melenyapkan semuanya. Dan MIRROR adalah sebuah pelukan hangat dariku, dibawa angin dan semoga sampai kepadanya.

Diberi judul “FREEDOM FIGHTER” dapat kita simpulkan gambar diatas sebuah ilustrasi tentang pejuang kebebasan. Dibalut warna monokrom dan siluet yang menambah kesan dramatis. Terpenjara, terkurung dan terasingkan adalah gambarannya. Keterasingan dari sebuah jeruji yang secara sadar dibuat untuk mengurung sebuah kebebasan. Dan objek maupun subjek diatas menggambarkan hal-hal tersebut.

Aku pernah mengalami hal diatas, aku mengalami keterasingan dari hal yang kusebabkan sendiri. Aku mengasingkan diri dari lingkungan yang mencoba merangkulku. Dulu, aku tidak pernah ingin berdamai dengan diri sendiri, aku takut akan kesalahan-kesalahan dengan banyak orang, aku takut, aku pengecut. Lalu mencoba tersadar dari jiwa yang memudar, aku mencoba membuka jeruji yang justru memenjarakan diriku sendiri. Untuk menemukan jati diri, karakter dan kebebasan versi terbaik dari diriku.

Bukankah NFT diatas sebuah mobil ambulance? Yap benar. Ambulance bagiku adalah sebuah zombie bersirine. Sebelum masuk kepada trauma ketiga-ku, mari kita lihat karya NFT diatas. “Zombie Apocalyse Ambulance” karya N1FTey ini menggambarkan sebuah ambulance berwarna merah yang terkoyak dengan gothic pada bagian latar belakangnya. Ambulance yang terkoyak menyerupai zombie yang tidak teratur penampakannya.

Ambulance adalah trauma bagiku, 2019 aku menemui trauma pada ambulance tepatnya suara sirinenya. Aku kehilangan nenek dari ibuku pada tahun tersebut, ia orangtua bagiku setelah ibu dan ayahku. Aku melihatnya menghembuskan nafas dan tak lama kemudian ambulance langsung datang. Selesai prosesi mandi, pengajian dan shalat jenazah, aku mengiringi kepergian beliau. Aku tepat dibelakang ambulance itu, berurai tangis airmata dan kekecewaan kepada diri sendiri. Aku membenci suara dan rupanya. Aku benci harus berada disana, aku benci berada di situasi itu, aku benci ambulance karena kenangan di dalamnya.

Jadi jika ambulance berada di sekitarmu, biarkan dia lewat, biarkan zombie itu pergi dengan kenangan di dalamnya. Biarkan suaranya hilang dan tangis itu hilang bersamaan sirine yang hilang terbawa angin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s